[💭] Mungkin Inti Komunikasi Adalah Hati yang Mencoba Memahami
✨ Ringkasan oleh Gemini 2.5 Pro
Mungkin inti komunikasi bukanlah penjelasan yang rapi seperti ensiklopedia, melainkan ‘pemahaman’ yang lahir dari proses sungguh-sungguh mempertimbangkan dan memedulikan berbagai posisi orang lain.
- Asli: http://blog.naver.com/hyeogikarp/223896315542
- Waktu terbit Naver: 2025/06/12 00:09 KST
- Kategori asli: Renungan singkat
Asli
Mungkin inti komunikasi itu,
bukan penjelasan yang rapi seperti ensiklopedia,
melainkan ‘pemahaman’ yang muncul dari proses sungguh-sungguh mempertimbangkan dan memedulikan berbagai posisi orang lain.
Ada orang yang memiliki gangguan penciuman, ada yang buta warna, ada yang kehilangan indra perasa, ada yang memiliki disabilitas intelektual, …
Dunia yang bisa dikenali setiap orang memiliki batas yang jelas.
Sebab dari pancaindra manusia sampai alur pikiran, tidak mungkin ada manusia yang benar-benar sempurna secara mutlak.
Sejak kecil, aku punya batas sistem persepsi yang jelas bernama “kehilangan indra penciuman.”
Dulu, ini terasa seperti kekurangan besar, duri besar dalam hidup, sekaligus beban yang berat.
Tidak tahu bau apa yang datang dari orang lain mungkin di satu sisi terlihat positif, tetapi tidak tahu bau apa yang keluar dariku biasanya menimbulkan akibat yang sangat negatif.
Lalu seseorang bertanya kepadaku. “Kalau seseorang yang belum pernah melihat warna merah bertanya apa itu merah, bagaimana kamu akan menjelaskannya?” Setelah kupikir dalam-dalam, itu pertanyaan yang sangat sulit dan tidak punya jawaban yang terang. Bagaimana mungkin menggambarkan secara indrawi sebuah indra yang tidak bisa dirasakan?
Begitu mendengar pertanyaan itu, aku langsung teringat contoh kebalikannya. Hari ketika aku makan durian. Seseorang mencium bau durian dari mulutku lalu berteriak, “Aduh!” dan kabur. Aku jadi sangat penasaran, sebenarnya sekuat apa rasa bau durian itu. Jadi aku minta orang itu menjelaskan bau durian. Saat itu, orang itu juga tampak cukup bingung, tidak tahu harus menjelaskan bagaimana, lalu kelabakan. Tapi aku bahkan menyukai kelabakan itu. Hati yang mencoba dengan cara apa pun untuk masuk ke sudut pandangku, berkomunikasi, dan memahami itu terasa cantik dan hangat.
Jadi kurasa aku juga akan berfokus pada menyampaikan hati yang cantik dan hangat itu sambil berkomunikasi dan mencoba memahami. Selama ini orang itu memahami merah seperti apa, apakah konsep saturasi dipahami dengan cara yang mirip olehnya, merah yang ia rasakan itu seperti apa, apa yang istimewa dari merah miliknya, apakah aku bisa memahami mengapa ia menyebutnya terasa kuat…
Setelah sebisa mungkin mempertimbangkan posisi orang itu, bertanya, dan mendengarkan, bukankah aku akan memberi jawaban yang menggaruk tepat bagian-bagian yang tampaknya ia penasari? Entahlah. Mungkin terdengar seperti menghindari jawaban sulit dengan ungkapan yang samar-samar manisㅋㅋ Tapi sepertinya aku akan berkomunikasi dengan cara seperti itu.
Saat membayangkan semua ini, tiba-tiba pikiran ini muncul.
Mungkin inti komunikasi bukanlah penjelasan yang rapi seperti ensiklopedia, melainkan ‘pemahaman’ yang lahir dari proses sungguh-sungguh mempertimbangkan dan memedulikan berbagai posisi orang lain.
Sama seperti orang yang menjelaskan bau durian kepadaku sambil kelabakan dan bertanya ini-itu terasa begitu menggemaskan, aku juga ingin menjadi orang yang menjelaskan merah sambil kelabakan dan bertanya ini-itu.






Tinggalkan komentar